Handicaps

Tinggalkan Komentar

Who Has The Handicap?

 

If you cannot see the person

but only the handicap,

who then is blind?

 

If you cannot hear the cries

of your brother for justice,

who then is deaf?

 

If you cannot talk to your sister

but avoid her,

who has the mental problem?

 

If you do not stand up

to assert the rights of every person,

who has the weak legs?

 

Your attitude to people with handicaps

is our greatest obstacle,

and yours too.

 

~quote from Tony Wong Jamaica Member of the International Council for People with Disabilities Quote

http://www.senanghati.org/contact.html

Kejutan hidup di bulan January- Bagian kedua

4 Komentar

Skripsi…

Apa yang akan terlintas di pikiran ketika mendengar hal itu?

Haha mayoritas dari mahasiswa pasti merasa burn out/bosan atau bahkan tidak mau sama sekali untuk dekat-dekat. Tapi karena skripsi merupakan syarat utama untuk lulus dari bangku perkuliahan yang mengharuskan mahasiswa buat belajar, maka mau tidak mau ya tetap akan dikerjakan. Walau tentu tidak dengan sepenuh hati dan hasilnya yah yang penting lolos,.^^”.

Tapi disini saya ingin sekedar sharing, sebenarnya skripsi bukan hal yang sebegitu menakutkan kok,. Buktinya banyak mahasiswa yang sampai detik ini masih dapat lulus dengan nilai yang baik.. Lalu kenapa bisa terjadi perbedaan pendapat seperti ini?

Kita coba pikirkan dari awal, pertama kali kita memilih topic penelitian. Apakah topic yang kita pilih itu sesuatu yang benar-benar penting bagi kita? Mengusik rasa ingin tahu dan hal yang benar-benar menarik perhatian kita? Ataukah itu hanya topic asal comot yang penting mengerjakan skripsi? Dari situ pasti akan terdapat sudut pkamung subjektif yang menentukan bagaimana proses pembuatan skripsi kita.

Topik skripsi bukanlah sesuatu yang harus fenomenal dan luar biasa,. Tapi cukup hal sederhana yang berasal dari sesuatu yang penting dan patut diteliti. Apakah itu? Yah itu tugas individual bagi kita karena setiap orang pasti punya sesuatu yang disenangi dan ingin diktahui lebih lanjut.

Selama proses pengerjaan skripsi bukan proses yang mudah,. Jelas! Apapun metode yang dipilih pasti punya resiko dan tantangan tersendiri. Nantinya akan banyak godaan dari eksternal (factor dari luar diri) untuk menunda mengerjakan skripsi. Hal itu akan membuat terlena dengan kesibukan yang ada dan keterusan untuk menelantarkan skripsi sementara waktu. Tapi apakah hanya eksternal? Tentu tidak!!

Disaat semua kondisi tidak enak, itu hanyalah satu diantara banyak kondisi sulit yang harus dihadapi,. Masih banyak sekali godaan lain dari internal (factor dari dalam diri),…Disini nanti pasti terasa malas, bad mood dan tidak niat sama sekali. Begitu mendengar kata skripsi, Ow no,.. Stay that word away from me,….

Haha tapi itulah duka skripsi,. Kita dihadapkan oleh berbagai macam godaan dan harus benar-benar mengatur strategi untuk menghadapinya. Tapi apakah skripsi hanya penuh derita?

Kalau bagi saya tidak. Dalam skripsi ini saya malah bisa mendapat berbagai pengalaman berharga, dimana saya bisa tau mana teman yang benar-benar perhatian dan bisa diajak berdiskusi, lalu mendapat pembimbing yang bisa menjadi ibu yang benar-benar mengayomi (Bu Astrid, kata terima kasih saja mungkin tidak cukup tapi saya benar-benar senang akan saat kita berdiskusi, walaupun diskusi itu malah melenceng dari topic bimbingan, tapi tetap akhirnya tidak kehilangan esensi bimbingan itu sendiri) memahami suatu fenomena dan kagum atasnya…. Tema skripsi saya mengajarkan banyak hal yang berguna dalam hidup saya sekarang,. Pemaknaan ulang terhadap arti keluarga, pemikiran tentang apa yang diinginkan dalam hidup, merasa diterima seperti keluarga oleh subjek dll. Mungkin semua itu kelihatan tidak berhubungan sama sekali,. Tapi yah itulah yang saya dapat,. Bisa dibilang skripsi merupakan ujian emosional yang cukup berat dan bermakna untuk dihadapi,.^^

Oleh karena itu saya ingin menekankan beberapa hal dimana beberapa hal ini mungkin dapat berguna bagi yang membaca:

  • Jadikan dosen pembimbing teman diskusi. Untung-untung kalau kalian dapat dosen pembimbing seperti yang saya dapat, dimana beliau sekalian bisa dijadikan seperti ibu, bukan hanya untuk keperluan skripsi saja^^. Dari banyak cerita teman dan juga yang saya alami, saya sadar terkadang dosen pembimbing mempunyai pemikiran yang berbeda dengan kita. Jelas saja pemikirannya berbeda kan memang berasal dari dua individu berbeda, malah seharusnya kita merasa aneh kan kalau pemikirannya bisa sama terus?^^”. Dari perbedaan ini pikirkan benar-benar dan lihat, apakah memang benar perbedaan itu diperlukan. Dosen pembimbing adalah orang yang lebih senior dan mengerti tentang penelitian. Tapi bagaimanapun juga semua keputusan tetap ditangan penulis skripsi. Kan yang melakukan tetap diri kita sendiri, bukan dosennya?,. Oleh karena itu kita perlu benar-benar berdiskusi. Jangan hanya diam dan mengangguk-angguk menerima mentah-mentah setiap kali bimbingan.
  • Bila merasa kurang percaya diri terhadap isi skripsi, bisa melakukan move riding (meminta teman untuk membaca hasil skripsi yang telah kita buat). Hal ini dapat memperkaya sudut pandang yang kita digunakan dalam penulisan skripsi.
  • Usahakan tetapkan tenggat waktu/deathline pada diri. Usaha ini benar-benar diperlukan supaya tidak tergoda untuk mengerjakan hal-hal lain, termasuk di dalamnya melawan diri dari rasa malas, dll
  • Jangan takut ketika ujian. Walaupun rasa takut itu sendiri masih wajar, tapi jangan sampai ketakutan itu lebih besar dan membuat kita tidak bisa ataupun menutupi penampilan kita yang sebenarnya. Ujian tidak menakutkan selama skripsi itu dibuat sendiri.
  • Setelah ujian ini saya mendapati bahwa terdapat dua model pertanyaan selama saya ujian: Yang pertama adalah pertanyaan untuk menguji pemahaman kita terhadap isi skripsi yang telah kita buat. Lalu yang kedua adalah jenis pertanyaan dimana penguji tidak tau isi skripsi kita dan ingin mendapat kejelasan. Kenapa bisa tidak tau? Ya bisa saja karena tulisan kita memang tidak jelas/ tidak kita cantumkan dan tiba-tiba isinya jumping, tidak sistematis atau tidak enak dibaca. Lalu bisa juga karena pengujinya malas membaca skripsi kita. Untuk itu jangan bingung dengan pertanyaan yang bertubi-tubi dari dosen penguji. Cukup dengarkan, pikirkan dan tanggapi. Tidak perlu ngotot/ berdebat mempertahankan isi skripsi. Sepele namun tidak kalah penting, terima dan akui bila memang data/hasil kita salah.
  • Secepatnya melakukan revisi dan menghubungi dosen penguji. Kita yang butuh mereka, bukan sebaliknya. Jadi sediakan waktu dan tenaga ekstra untuk menghadapi jadwal mereka yang tentunya juga bukan hanya buat kita saja.
  • Periksa dengan benar nama dosen yang tercantum dalam lembar pengesahan. Cek undangan skripsi/tanya ke Tata Usaha, untuk memperhatikan nama dan gelar dengan baik. Saya sendiri berbuat kebodohan karena salah menulis gelar dosen,..^^”. Dan harus meminta ulang tt padahal sudah siap dijilid. Maka dari itu saya buat tulisan ini biar yang membaca terhindar mengalami pengalaman serupa!
  • Walaupun revisi belum selesai, taruhlah cover lebih dulu di percetakan dan isinya menyusul saja. Disini cover sudah harus diformat sesuai dengan ketentuan universitas. Kenapa cover harus lebih dulu? Karena mencetak cover itu perlu waktu lebih lama dan biasanya pihak percetakan akan mengenakan tarif yang lebih mahal bila kita minta agar lebih cepat.

Semoga tulisan ini berguna bagi yang masih mengerjakan/belum mulai skripsi. Lalu bagi sesama yang sudah menyelesaikan skripsi/masih mengerjakan bagaimana pengalaman kalian dengan skripsi kalian?^^

Abstraksi Penerimaan diri odapus (orang dengan lupus) terhadap penyakit lupus

6 Komentar

need somebody to rely on


Lupus bisa digolongkan sebagai salah satu penyakit kronik yang tidak dapat sembuh total. Penyakit ini sulit untuk dideteksi dan menimbulkan penderitaan bagi penderitanya yang dikenal dengan sebutan odapus (orang yang hidup dengan lupus). Mayoritas odapus merupakan perempuan. Mereka berada dalam fase produktif yang memiliki tugas perkembangan utama untuk bekerja dan membangun keluarga. Tapi kedua hal tersebut biasanya terganggu dengan adanya lupus. Gangguan ini disertai gejala lupus yang tidak menentu membuat mayoritas odapus stress dan tidak dapat menerima lupus yang ada pada dirinya. Disini terdapat seorang subjek yang mengaku dapat menerima lupus dalam dirinya. Berdasarkan hal unik tersebut, maka dilakukan penelitian atas ketertarikan yang ada untuk mengetahui bagaimana dinamika penerimaan diri yang dialami subjek sehingga dapat menerima lupus.

Pengambilan subjek penelitian didasarkan pada kriteria odapus yang dapat menerima penyakitnya. Data diambil dengan metode kualitatif pendekatan studi kasus dengan menggunakan wawancara mendalam. Dalam menganalisa digunakan inductive thematic analysis dimana perkataan subjek digunakan dalam menggolongkan analisa tema yang ada.

Hasil penelitian menunjukan bahwa untuk dapat menerima diri, subjek mengalami dinamika psikologis dalam pemikiran, perasaan dan perilaku. Disini pikiran memiliki peran paling besar dalam melakukan pembentukan ulang terhadap konsep diri. Dengan menjadi odapus, gambaran diri ideal subjek ingin untuk sembuh dan menikah. Gambaran diri ideal ini yang menjadi pendorong agar ia dapat melakukan penilaian terhadap dirinya sebagai odapus dan calon pacarnya kelak. Keselarasan antara gambaran diri dan gambaran diri ideal yang dimiliki subjek membuat subjek mempunyai konsep diri baru yang jauh lebih positif daripada konsep diri sebelum ia dapat menerima lupus. Hal ini membuat subjek dapat menerima keterbatasannya sebagai odapus.

Disini proses penerimaan diri bukanlah proses yang mudah. Subjek melalui beberapa tahap terlebih dahulu. Tahapan tersebut adalah penolakan, marah, menawar (biasanya kepada Tuhan) baru dapat menerima dirinya sebagai odapus. Seharusnya menurut Kubler Ross, subjek juga harus mengalami fase depresi, tapi dari hasil wawancara hal ini tidak dilewati subjek. Dari hasil analisa subjek mendapatkan dukungan positif yang tulus dari dokter, teman, YLI dan keluarga.

Gabungan antara pemikiran konsep diri yang positif dan banyaknya dukungan yang ia terima membuat subjek dapat bertahan ketika ia mengalami serangan perasaan negative dari dalam dan luar dirinya. Sekarang ia sudah bisa menerima diri apa adanya sebagai odapus, menunjukan perilaku positif dengan terus mencari cara agar dapat sembuh dan menjadi manusia yang lebih baik.

butterfly

life

Lupus bisa digolongkan sebagai salah satu penyakit kronik yang tidak dapat sembuh total. Penyakit ini sulit untuk dideteksi dan menimbulkan penderitaan bagi penderitanya yang dikenal dengan sebutan odapus (orang yang hidup dengan lupus). Mayoritas odapus merupakan perempuan. Mereka berada dalam fase produktif yang memiliki tugas perkembangan utama untuk bekerja dan membangun keluarga. Tapi kedua hal tersebut biasanya terganggu dengan adanya lupus. Gangguan ini disertai gejala lupus yang tidak menentu membuat mayoritas odapus stress dan tidak dapat menerima lupus yang ada pada dirinya. Disini terdapat seorang subjek yang mengaku dapat menerima lupus dalam dirinya. Berdasarkan hal unik tersebut, maka dilakukan penelitian atas ketertarikan yang ada untuk mengetahui bagaimana dinamika penerimaan diri yang dialami subjek sehingga dapat menerima lupus. 

Pengambilan subjek penelitian didasarkan pada kriteria odapus yang dapat menerima penyakitnya. Data diambil dengan metode kualitatif pendekatan studi kasus dengan menggunakan wawancara mendalam. Dalam menganalisa digunakan inductive thematic analysis dimana perkataan subjek digunakan dalam menggolongkan analisa tema yang ada.

Hasil penelitian menunjukan bahwa untuk dapat menerima diri, subjek mengalami dinamika psikologis dalam pemikiran, perasaan dan perilaku. Disini pikiran memiliki peran paling besar dalam melakukan pembentukan ulang terhadap konsep diri. Dengan menjadi odapus, gambaran diri ideal subjek ingin untuk sembuh dan menikah. Gambaran diri ideal ini yang menjadi pendorong agar ia dapat melakukan penilaian terhadap dirinya sebagai odapus dan calon pacarnya kelak. Keselarasan antara gambaran diri dan gambaran diri ideal yang dimiliki subjek membuat subjek mempunyai konsep diri baru yang jauh lebih positif daripada konsep diri sebelum ia dapat menerima lupus. Hal ini membuat subjek dapat menerima keterbatasannya sebagai odapus.

Disini proses penerimaan diri bukanlah proses yang mudah. Subjek melalui beberapa tahap terlebih dahulu. Tahapan tersebut adalah penolakan, marah, menawar (biasanya kepada Tuhan) baru dapat menerima dirinya sebagai odapus. Seharusnya menurut Kubler Ross, subjek juga harus mengalami fase depresi, tapi dari hasil wawancara hal ini tidak dilewati subjek. Dari hasil analisa subjek mendapatkan dukungan positif yang tulus dari dokter, teman, YLI dan keluarga.

Gabungan antara pemikiran konsep diri yang positif dan banyaknya dukungan yang ia terima membuat subjek dapat bertahan ketika ia mengalami serangan perasaan negative dari dalam dan luar dirinya. Sekarang ia sudah bisa menerima diri apa adanya sebagai odapus, menunjukan perilaku positif dengan terus mencari cara agar dapat sembuh dan menjadi manusia yang lebih baik.

butterfly

Kejutan hidup – Bag pertama: Indahnya Bali

2 Komentar

Satu bulan ini,. Banyak sekali kejadian yang berkesan.

Semua benar-benar membuat saya belajar bagaimana seharusnya menjalani hidup.

haha karena cukup banyak saya akan membagi nya dalam 3 notes.

Di note kali ini saya akan menceritakan kesan saya saat berlibur ke bali.

Hem secara keseluruhan view di sana sangat bagus. Sawah hijau, langit dengan awan yang serasa membentuk lukisan, artistic khas bali yang dapat dilihat di setiap detail banguan dan pure,..

Benar-benar dapat menyegarkan mata penat yang selama ini hanya melihat bangunan kotak-kotak dan jalanan penuh polusi kendaraan di Surabaya,..

Hem liburan ini dimulai dengan makan nasi campur di kadewatan. Nasi campur yang ada di sana sangat enak. Terdiri dari satu potong ayam, ayam suir, kacang goreng, sate lilit, sayur dimasak dengan kelapa dan sambal yang sangat yahud!

Cita rasa lombok disini benar-benar pedassss… sampai ketika dua kali makan di sini saya jadi mengubah nama tempat ini dari kedewatan menjadi kelewatan,. hahaha kelewatan pedasnya tapi enak….^^

Rute selanjutnya beralih untuk mandi di tirta empul.

Its amazing to see, how people believe with that holy water.

Banyak orang yang berdoa sebelum membasuh muka di pancuran yang ada. Semua rata-rata menikmati ritual yang ada dengan keluarganya. Mereka antri sambil bergurau mengenai air yang dingin dan keberadaan seekor ikan yang ada di kolam itu,.Sejujurnya saya meragukan kegunaan air nya. Tapi karena sudah jauh-jauh datang ke tempat ini jadi ya sekalian saja menikmati sensasi memakai sarung, mandi di kolam ini. Rasanya seperti menjadi orang Bali dalam beberapa jam^^. Tapi yang membuat saya merasa risih ternyata ritual yang dianggap suci oleh orang bali ini malah dijadikan objek foto oleh foreigner,.. hem.. seharusnya di sana diberi larangan tidak boleh memfoto karena hal tersebut malah merusak suasana mistik yang ada,…

Tapi pengaturan di sana rapi sekali,. Fenomena yang fantastis bila dibandingkan dengan tempat wisata yang ada di Surabaya. Surabaya rasanya kacau dan seenaknya sendiri,. Semua orang termasuk foreigner tetap harus mematuhi aturan seperti harus memakai semacam sarung/ selendang di dalam tempat suci/ pure.

Di dalam lokasi pure, yang merupakan tempat ibadat orang hindu ini orang harus memakai semacam sarung dan baju atasan berwarna putih agar terlihat pantas menghadap Tuhan,.jadi begitu memutuskan untuk pergi ke pure yang ada di gunung batur, saya juga terpaksa memakai sarung tersebut.

wew,…ini merupakan pengalaman pertama memakai sarung seperti orang bali. Bagi saya hal ini sangaaaaat menyulitkan karena membuat saya susah untuk berjalan,. kaki harus pelan2 dalam melangkah kalau tidak mau tersandung >_<”

Tapi pengorbanan memakai sarung tersebut terbayar dengan keindahan ornamen dan pemandangan di pure Batur tersebut. Saya juga merasakan sensasi yang antik ketika saya diberkati oleh mangku dengan diberi air suci dan ditempeli beras di kening,…

Adat yang ada masih terasa kental dan meresap di elemen masyarakat. Itu menambah sensasi ketika berada di bali. Kedua tempat yang ada di atas merupakan tempat yang paling berkesan., tapi bali masih menawarkan banyak tempat wisata lain seperti:

  • Garuda Wisnu Kencana (GWK): dengan membayar karcis masuk 20 ribu rupiah, kita dapat melihat patung Dewa Wisnu yang masih setengah badan (katanya si pembangunannya masih terhenti karena satu dan lain hal), menikmati indahnya patung-patung lain yang dipahat dari gunung kapur, lalu berjalan di antaranya dan merasakan sensasi bahwa manusia itu kecil sekali,.^^,. Ow ya disana juga ada mainan seperti wall climbing,prusik, flying fox, dan roda listrik bagi yang malas berjalan,. Ya walaupun untuk dapat menikmati mainan tersebut kita harus membayar, tapi tidak apa-apa sekali-sekali kita perlu bersenang-senang merogoh kantong kita, mencoba untuk menikmatinya sebagai bagian dari liburan,. ^^
  • Pantai Brawe: Mirip dengan Pantai Kute, bedanya pasirnya lebih coklat dan ombaknya lebih deras. Disini porsi foreigner lebih banyak daripada pengunjung lokal. Hehe hal itu membuat kita bisa memuaskan mata untuk melihat pantai, mentari senja dengan ditemani bonus view dari para foreigner yang berselancar :)
  • Ubud: Wewwwwwww,. Ini jalan serasa di luar negeri lo,… Kanan-kiri foreigner semua! Tempat yang lebih elit daripada pertokoan di kawasan Kute maupun Seminyak. Hehe banyak tempat makan yang enak juga,. Mulai dari babi guling Bu Oka, sampai steak yang saya lupa tempatnya… semua nyummy baunya,.(haha tidak tau ya kalau rasanya,. Saya tidak sempat mampir soalnya^^”)
  • Pantai Padang-padang: Sayangnya ketika saya datang sudah sore,. Jadi tidak sempat menikmati indahnya pantai. Hehe Tapi tidak apa-apa… Pantai ini masih punya kelebihan lain,… Ketika awal datang saya sudah menikmati enaknya jagung bakar,. Hem.. lalu menonton tarian kecak. Very impressive!! Jangan lewatkan bagian ini ketika anda berkunjung ke Bali,.^^  Full of art in the storyline and the dance, with beautiful Padang-padang Beach in the background,…. :) . Keindahan ceritanya sampai membuat turis Jepang juga takjub, terutama ketika ada bagian cerita dimana Anoman main sepak bola api,…  Sayang sekali ketika ke sana kamera saya low batt,. Saya jadi tidak bisa mengabadikannya dengan jelas di malam hari,…
  • Final destination for pizza lover: Tratorria. Berada di kawasan seminyak, menyajikan pizza cita rasa Italia yang dimasak oleh koki yang diimport dari luar negeri. Pemiliknya kelihatannya merupakan orang Itali, lalu pengunjung yang makan di sana mayoritas merupakan foreigner,. Hal ini mungkin yang membuat menunya berbahasa Itali semua,… ^^”. Tapi tidak apa-apa, karena yang di sana masih merupakan orang Indonesia, jadi kita masih bisa memesan sesuai dengan keinginan kita : ). Lalu kenapa saya sebut tempat ini sebagai pizza lover?? Ini gara-gara the taste og that pizza,.. Hemmmmmmmmmm so nyummy! Delicious pizza that I ever eat!!! Keju mozzarelanya sampai melumer, dagingnya juga banyak,. Berbeda jauh dengan pizza di manapun yang perna saya makan…. Dengan harga pantas seharga pizza populer yang biasa saya pesan saya sudah bisa menikmatinya,..  :)

Hem,…. sayangnya karena keberangkatan saya ke bali hanya 5 hari jadi saya tidak bisa menjelajah lebih jauh,. Tapi saya tetap menikmati 5 hari yang berkesan ini,.

Tahun Baru 2011

2 Komentar

lembatan hidup

Tetttt

Tettt

Broom.. broom.

Penghujung tahun ini banyak sepeda motor yang mewarnai jalan sampai menghambat laju mobil sambil di iringi terompet yang membuat orang yang punya sakit jantung mungkin dapat meninggal seketika (–)”

Tapi itulah euphoria di Surabaya. Dalam menyambut tahun baru masyarakat membuka knalpot kendaraan, membeli terompet dan bermain kembang api. Semua berpesta dalam menyambut datangnya tahun baru. Pesta untuk apa sebenarnya itu? Mungkin untuk pelarian atas segala rutinitas harian dengan harapan tahun baru dapat membawa berkat akan kehidupan yang lebih baik.

Entah mengapa tahun baru ini saya tidak merasakan greget “perayaan” sama sekali. Yang saya rasakan penghujung tahun hanyalah waktu untuk mengakhiri lembaran satu yang sudah penuh coretan dan membuka lembaran baru yang masih kosong melompong.

Hal ini membuat saya merefleksikan tahun 2010. Terlalu banyak yang terjadi.

Tapi kalau dipikir lagi, banyak tidak nya juga sama saja karena tahun lalu juga menghabiskan 365 hari yang sama banyaknya,.^^”

Tapi jumlah hari yang sama tersebut diikuti dengan pengalaman yang berbeda yang membuat pemikiran saya juga berbeda dengan tahun kemarin. Di mana kehadiran saya saat ini tidak akan lagi sama artinya kalau tidak ada kesempatan+ lingkungan yang mendukung.

Semua ini membuat doa di awal tahun baru penuh dengan terima kasih dan syukur atas hidup ini. Mengenang banyak hal2 yang berkesan. Indah maupun menyakitkan sama-sama jadi pengalaman berharga yang tidak bisa dipisahkan. Walaupun pada kenyataannya lebih sulit untuk menarik pembelajaran dari hal yang menyakitkan. Tapi itulah warna kehidupan yang beragam dan menarik. Kita tidak bisa menerka dan memastikan apa yang akan terjadi. Hanya bisa mengira dan menyiapkan respon atasnya.

Begitu juga di tahun baru 2011 ini. Kalau orang lain ingin menjadi lebih baik, saya tidak. Bukan karena saya tidak mau memperbaiki diri sendiri. Tapi karena acuan baik dan buruk itu sendiri masih sangat subjektif dan tidak bisa benar-benar jadi pengukuran akan diri.^^” dan membuat hal itu masih sangat abstrak di telinga saya.

Saya hanya ingin tetap sadar dalam melangkah. Bagi saya kesadaran itu merupakan gerbang awal untuk memulai dan mengakhiri pilihan apapun. Hal yang kelihatan sepele tapi sangat sulit dilakukan dan membutuhkan proses penyesuaian untuk mengontrol keinginan diri sendiri. Melawan diri sendiri merupakan hal yang sangat berat. Tidak menyalahkan apa yang terjadi karena percuma, hal yang sudah terjadi juga tidak bisa di ulang lagi. Hanya bisa berusaha tetap sadar untuk memikirkan apa yang saya mau dan bagaimana selanjutnya.

Itu saya dengan tahun baru. Kalau anda bagaimana?^^

Pendidikan yang Semakin “Gelap”

14 Komentar

Sistem pendidikan di Indonesia. Begitu membaca ini mungkin yang terpikir pertama kali adalah Ya,. sudah begitu-begitu saja. Mau diapa-apakan juga ya sudah percuma. Toh semua sudah diatur oleh pemerintah. Memangnya apa sih yang bisa kita, atas nama rakyat kecil ini bicara tentang sistem?

Haha itulah pikiran saya yang pertama kali muncul ketika saya belum benar-benar mengerti dan tergelitik tentang sebuah sistem (walaupun sampai sekarang saya masih harus terus belajar dan memahami sistem yang sesungguhnya!).  Sekarang bila dilihat benar-benar, saya prihatin dengan sistem pendidikan yang ada. Termasuk pendidikan yang sudah saya alami sampai sekarang, dengan status saya yang masih menjadi mahasiswi.

Sistem pendidikan SD-SMA sekarang

Mayoritas sistem pendidikan di Indonesia memacu anak didik untuk tidak kreatif. Mengapa hal ini bisa terjadi? Bagi saya hal ini bukan karena satu sebab saja, tapi terjadi karena gabungan beberapa elemen-elemen yang terlibat di dalamnya. Setiap elemen itu mempengaruhi dan akhirnya menciptakan pembunuhan sikap kreatif dan kritis di antara anak didik.

Saya akan mencontohkan dari hal-hal sepele yang saya alami sejak kecil: ketika menggambar gunung, maka ibu guru akan menggambar di papan tulis 2 gunung, di tengah-tengahnya ada gambar matahari. Lalu ibu tersebut mengatakan: anak-anak nanti beri warna biru ya buat gunungnya, lalu kuning untuk mataharinya. Yah itu contoh penindasan terhadap bentuk dan warna gunung. Padahal pada realitanya ada gunung yang hanya 1 dan warnanya sebenarnya bukan biru, tapi karena terkena spectrum cahaya maka warna biru yang terlihat oleh mata kita. Sekarang pun hal itu tidak berubah, ketika beberapa waktu lalu ada lomba menggambar dalam rangka ulang tahun di kampus, saya melihat bahwa masih banyak anak yang menggambar 2 gunung dan tidak lupa mataharinya. Itu untuk hal yang kecil. Tuntutan guru tidak berakhir di situ.

Kenapa saya bisa bilang menuntut? Sekarang berapa jumlah anak SD yang tidak mengikuti kursus atau les privat? Mayoritas semua les. Sejujurnya bagi saya sebagai mahasiswi, ini menjadi bisnis yang menguntungkan. Tapi di sisi lain ini  menghilangkan kebebasan anak untuk bermain, padahal ketika seusia mereka saya masih bisa mainan dan berkunjung ke rumah tetangga.

Saya sampai bingung mengapa ini bisa terjadi, karena memang standar pendidikan makin tinggi, anak-anak semakin bodoh sehingga tidak cukup hanya belajar di sekolah, orangtua yang ingin anaknya semakin pintar dan rangking, atau apa? Apakah ini hanya sebatas tuntutan orang tua dan guru? Tentu tidak.

Secara keseluruhan sistem pendidikan di indonesia turut menstimulasi timbulnya fenomena ini juga. Saya bisa bilang seperti ini karena berdasarkan pengalaman saya, saya mendapati bahwa sistem pendidikan di indonesia masih belum konsisten. Masih terlalu ”sibuk” untuk adaptasi sistem dari luar negeri tanpa benar-benar menangkap esensi pembelajaran yang ingin dicapai sampai membuat pengajar bingung. Pengajar saja bisa bingung, apalagi muridnya? Akibatnya mereka hanya menjalani sesuai indikator yang diberikan pemerintah.

Selain itu tujuan terhadap diadakannya UNAS pun masih diperdebatkan. Banyak yang memboikotnya dari zaman saya SD, tapi sampai detik ini saya kuliah UNAS masih diadakan. Sebenarnya apakah UNAS sebagai standar  benar-benar berguna?

This ongoing question never change until government make a new policy. Dalam benak saya UNAS semata-mata hanyalah seperti peraturan yang tidak berguna bagi siswa, lain halnya bagi pemerintah dan lembaga yang menyediakan produk UNAS yang diuntungkan dari uang yang disetor siswa.Disamping itu sebenarnya masih ada keuntungan dari UNAS, dimana pemerintah dapat memiliki data tentang kualitas SDM di sekolah. Tapi sayangnya data yang ada juga disia-siakan dan tidak diolah dengan maksimal. Coba pemerintah bisa memberikan beasiswa gratis bagi siswa yang berprestasi atau semacamnya,. Maka hal tersebut akan membuat UNAS memiliki arti dan berguna bagi siswa yang sudah susah-susah belajar.

Nyatanya UNAS sendiri merupakan ”setan” yang ditakuti oleh siswa. Banyak siswa yang menjadi cemas lalu ikut bimbingan belajar baik yang disediakan lingkungan sekolah ataupun lembaga populer dan les privat. Padahal dengan adanya les privat, waktu yang dimiliki oleh anak-anak untuk bermain akan semakin terbatas. Di sekolah sudah harus belajar, di rumah hanya makan lalu lanjut belajar di tempat bimbingan belajar / les. Lalu kapan waktu bagi anak untuk memiliki waktu senggang dan menstimulasi kreatifitas yang dimilikinya?

Berlanjut ke Perguruan Tinggi

Dari SD-SMA sudah dijejali dengan berbagai hafalan tentang IPS, IPA, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dll. Lalu apakah semua itu sudah diresapi oleh mayoritas mahasiswa di perguruan tinggi? Hahahaha, tentu tidak. Banyak dari teman saya yang sampai sekarang tidak bisa bahasa inggris dan anti ketika berhadapan dengan textbook. Padahal mereka sudah dapat pelajaran ini dari bagku SD.

Itu contoh sepele untuk pelajaran yang tidak diserap dengan baik, lalu bagaimana dengan pola pikir? Wah kalau yang ini saya sulit juga menuliskannya. Dan lebih baik kalau menyindir diri sendiri saja untuk dijadikan contoh. J Kebanyakan dari mahasiswa jarng yang bisa berpikir kritis. Dari SD-SMA sudah terbiasa untuk ”disuapi” oleh para guru. Hal ini membuat semasa kuliah, saya awalnya juga hanya menunggu disuapi pengetahuan. Saya malas membaca, menerima penjelasan dosen, menghafal textbook, ikut ujian dan lulus mata kuliah. Dari situ saya belajar untuk membuat otak menjadi sistematis. Tapi juga menjadi ”tukang” (mengutip salah satu perkataan dosen saya). Mengapa menjadi tukang? Karena saya hanya menerima dan menjalankan perintah, tidak mengetahui esensi dari perilaku dan tidak mengkritisinya. Di samping itu budaya disuapi itu juga membuat saya untuk tidak peka terhadap sekeliling. Tau nya hanya kuliah tanpa aplikasi riil yang lama-lama mematikan karena hanya tau teori tapi kebingungan ketika menerapkan. Tapi seiring dengan tugas-tugas proyek, baru saya sadar bahwa ini salah dan harus diubah. Tapi itu kan saya, dan tidak semua mahasiswa bisa mendapat kesempatan dibenturkan keyakinannya melalui tugas proyek yang ada.

Kesimpulan

Dari semua kejenuhan dan tuntutan yang ada, kebanyakan pelajar melarikan diri dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan lewat dunia cyber (game, chat, fb) ataupun shopping di mall, dll. Hal ini membuat bumerang bagi pembelajaran itu sendiri karena prosesnya berlangsung sampai titik jenuh. Hal ini tidak akan dapat maksimal dalam membentuk karakter muda Indonesia yang ingin diciptakan lewat sistem pendidikan yang ada.

Akibatnya jarang (bukan berarti tidak ada lo ya,.) orang indonesia yang bisa kreatif dan menciptakan sesuatu yang bisa di banggakan (baik secara nasional maupun internasional). Padahal kalau berbicara soal intelektual, saya rasa tingkat intelegensi di Indonesia cukup tinggi.Tapi kecerdasan itu tidak benar-benar diolah dengan baik sehingga semakin mematikan dirinya sendiri.

Anak-anak dari kecil sudah dijejali dengan pengetahuan yang suka ataupun tidak suka harus mereka hafal. Padahal saya yakin bahwa setiap anak unik dan memiliki intelegensi yang bermacam-macam seperti: musik, linguistik, kinestetik, logika, spatial, interpersonal dan intrapersonal (Gardner, dalam Feldman). Jadi menurut saya sayang sekali kalau waktu yang ada itu hanya dihabiskan untuk menuntut mereka belajar. Belajar memang perlu, tapi juga perlu untuk memberi kebebasan dan stimulasi bagi anak didik untuk meningkatkan kreatifitas, menemukan intelegensi yang cocok dengannya, lalu memolesnya menjadi aset yang berguna bagi anak.

Daftar Pustaka

Feldman, Robert S. (2007).Understanding Psychology. USA: McGraw-Hill.

Refleksi dari penjual koran kecil

12 Komentar

3 hari pulang malam saya heran,. Di jalan malam ini kenapa saya selalu melihat seorang anak kecil perempuan jualan koran? Awalnya saya hanya memperhatikan, ada rasa kasihan tapi kok ya merasa sayang kalau diberi uang,. Kalau orang lain, (terutama ibu-ibu) sudah banyak yang kasihan dan langsung memberi uang dan tetap tidak mau mengambil korannya.

Fenomena ini membuat saya berpikir lagi kenapa saya bisa merasa sayang ya,. Apa karena saya pelit? Padahal kan kalau saya ikut memberi itu bisa menambah penghasilan anak itu? Tapi hal itu membawa saya pada pemikiran lain,. Apa benar kasihan dan memberi uang itu bijaksana? Padahal justru karena ada pengatas namaan terhadap uang itu yang membuat anak kecil itu ada di jalanan.

Anak kecil yang saya lihat ini mungkin saja merupakan salah satu korban nyata dari antara 70 ribu anak yang menjadi korban human trafficking di Indonesia (data dari Unicef,.)

Sekarang masih disuruh untuk jual koran, nanti kalau besar jualan apa lagi? Apa badannya? Atau bahkan organnya?,..Hal yang memilukan tapi itulah realitanya. Mereka dipekerjakan sejak kecil dan diasuh (*dalam artian yang sesungguhnya adalah dimanfaatkan) oleh preman buat mengeruk keuntungan dari orang sekitar, Baik yang kasihan ataupun para hidung belang yang berkelana

Hal ini membuat saya merasa “gatal” karena tidak berdaya. Melihat, tahu, tapi juga tidak sanggup untuk menghadapi kenyataan yang pelik. Mau memberi uang tapi itu sama saja memberi uang saya pada para preman yang “mengasuh” mereka,. Tidak beri apa-apa kasihan,. Sampai akhirnya hari ini saya tidak tega juga, jadi sebelum pulang melewati jalan yang sama, saya beli coki-coki yang kelihatannya murah dan tidak berarti (*nyebut merk ne,. hehe tapi bukan brarti saya promosiin coki2 lo ya…). Ya paling ngak permen coklat ini tidak diperuntukan untuk preman2 itu, tapi bisa langsung dinikmati anak itu. Saya tidak menyesal melakukannya karena begitu diberi anak tersebut langsung tersenyum dengan lebar dan tulus, lebih merekah daripada senyum yang diberikannya pada saat ibu-ibu memberi dia uang,.. Ternyata permen coklat memang lebih mengena buat dia :) . Jadi disini saya bukan meminta anda untuk melakukan hal yang sama(memberi permen coklat), tapi hanya ingin berbagi pemikiran tentang memberikan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan dan mengena

~syko

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.