Sistem pendidikan di Indonesia. Begitu membaca ini mungkin yang terpikir pertama kali adalah Ya,. sudah begitu-begitu saja. Mau diapa-apakan juga ya sudah percuma. Toh semua sudah diatur oleh pemerintah. Memangnya apa sih yang bisa kita, atas nama rakyat kecil ini bicara tentang sistem?
Haha itulah pikiran saya yang pertama kali muncul ketika saya belum benar-benar mengerti dan tergelitik tentang sebuah sistem (walaupun sampai sekarang saya masih harus terus belajar dan memahami sistem yang sesungguhnya!). Sekarang bila dilihat benar-benar, saya prihatin dengan sistem pendidikan yang ada. Termasuk pendidikan yang sudah saya alami sampai sekarang, dengan status saya yang masih menjadi mahasiswi.
Sistem pendidikan SD-SMA sekarang
Mayoritas sistem pendidikan di Indonesia memacu anak didik untuk tidak kreatif. Mengapa hal ini bisa terjadi? Bagi saya hal ini bukan karena satu sebab saja, tapi terjadi karena gabungan beberapa elemen-elemen yang terlibat di dalamnya. Setiap elemen itu mempengaruhi dan akhirnya menciptakan pembunuhan sikap kreatif dan kritis di antara anak didik.
Saya akan mencontohkan dari hal-hal sepele yang saya alami sejak kecil: ketika menggambar gunung, maka ibu guru akan menggambar di papan tulis 2 gunung, di tengah-tengahnya ada gambar matahari. Lalu ibu tersebut mengatakan: anak-anak nanti beri warna biru ya buat gunungnya, lalu kuning untuk mataharinya. Yah itu contoh penindasan terhadap bentuk dan warna gunung. Padahal pada realitanya ada gunung yang hanya 1 dan warnanya sebenarnya bukan biru, tapi karena terkena spectrum cahaya maka warna biru yang terlihat oleh mata kita. Sekarang pun hal itu tidak berubah, ketika beberapa waktu lalu ada lomba menggambar dalam rangka ulang tahun di kampus, saya melihat bahwa masih banyak anak yang menggambar 2 gunung dan tidak lupa mataharinya. Itu untuk hal yang kecil. Tuntutan guru tidak berakhir di situ.
Kenapa saya bisa bilang menuntut? Sekarang berapa jumlah anak SD yang tidak mengikuti kursus atau les privat? Mayoritas semua les. Sejujurnya bagi saya sebagai mahasiswi, ini menjadi bisnis yang menguntungkan. Tapi di sisi lain ini menghilangkan kebebasan anak untuk bermain, padahal ketika seusia mereka saya masih bisa mainan dan berkunjung ke rumah tetangga.
Saya sampai bingung mengapa ini bisa terjadi, karena memang standar pendidikan makin tinggi, anak-anak semakin bodoh sehingga tidak cukup hanya belajar di sekolah, orangtua yang ingin anaknya semakin pintar dan rangking, atau apa? Apakah ini hanya sebatas tuntutan orang tua dan guru? Tentu tidak.
Secara keseluruhan sistem pendidikan di indonesia turut menstimulasi timbulnya fenomena ini juga. Saya bisa bilang seperti ini karena berdasarkan pengalaman saya, saya mendapati bahwa sistem pendidikan di indonesia masih belum konsisten. Masih terlalu ”sibuk” untuk adaptasi sistem dari luar negeri tanpa benar-benar menangkap esensi pembelajaran yang ingin dicapai sampai membuat pengajar bingung. Pengajar saja bisa bingung, apalagi muridnya? Akibatnya mereka hanya menjalani sesuai indikator yang diberikan pemerintah.
Selain itu tujuan terhadap diadakannya UNAS pun masih diperdebatkan. Banyak yang memboikotnya dari zaman saya SD, tapi sampai detik ini saya kuliah UNAS masih diadakan. Sebenarnya apakah UNAS sebagai standar benar-benar berguna?
This ongoing question never change until government make a new policy. Dalam benak saya UNAS semata-mata hanyalah seperti peraturan yang tidak berguna bagi siswa, lain halnya bagi pemerintah dan lembaga yang menyediakan produk UNAS yang diuntungkan dari uang yang disetor siswa.Disamping itu sebenarnya masih ada keuntungan dari UNAS, dimana pemerintah dapat memiliki data tentang kualitas SDM di sekolah. Tapi sayangnya data yang ada juga disia-siakan dan tidak diolah dengan maksimal. Coba pemerintah bisa memberikan beasiswa gratis bagi siswa yang berprestasi atau semacamnya,. Maka hal tersebut akan membuat UNAS memiliki arti dan berguna bagi siswa yang sudah susah-susah belajar.
Nyatanya UNAS sendiri merupakan ”setan” yang ditakuti oleh siswa. Banyak siswa yang menjadi cemas lalu ikut bimbingan belajar baik yang disediakan lingkungan sekolah ataupun lembaga populer dan les privat. Padahal dengan adanya les privat, waktu yang dimiliki oleh anak-anak untuk bermain akan semakin terbatas. Di sekolah sudah harus belajar, di rumah hanya makan lalu lanjut belajar di tempat bimbingan belajar / les. Lalu kapan waktu bagi anak untuk memiliki waktu senggang dan menstimulasi kreatifitas yang dimilikinya?
Berlanjut ke Perguruan Tinggi
Dari SD-SMA sudah dijejali dengan berbagai hafalan tentang IPS, IPA, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dll. Lalu apakah semua itu sudah diresapi oleh mayoritas mahasiswa di perguruan tinggi? Hahahaha, tentu tidak. Banyak dari teman saya yang sampai sekarang tidak bisa bahasa inggris dan anti ketika berhadapan dengan textbook. Padahal mereka sudah dapat pelajaran ini dari bagku SD.
Itu contoh sepele untuk pelajaran yang tidak diserap dengan baik, lalu bagaimana dengan pola pikir? Wah kalau yang ini saya sulit juga menuliskannya. Dan lebih baik kalau menyindir diri sendiri saja untuk dijadikan contoh. J Kebanyakan dari mahasiswa jarng yang bisa berpikir kritis. Dari SD-SMA sudah terbiasa untuk ”disuapi” oleh para guru. Hal ini membuat semasa kuliah, saya awalnya juga hanya menunggu disuapi pengetahuan. Saya malas membaca, menerima penjelasan dosen, menghafal textbook, ikut ujian dan lulus mata kuliah. Dari situ saya belajar untuk membuat otak menjadi sistematis. Tapi juga menjadi ”tukang” (mengutip salah satu perkataan dosen saya). Mengapa menjadi tukang? Karena saya hanya menerima dan menjalankan perintah, tidak mengetahui esensi dari perilaku dan tidak mengkritisinya. Di samping itu budaya disuapi itu juga membuat saya untuk tidak peka terhadap sekeliling. Tau nya hanya kuliah tanpa aplikasi riil yang lama-lama mematikan karena hanya tau teori tapi kebingungan ketika menerapkan. Tapi seiring dengan tugas-tugas proyek, baru saya sadar bahwa ini salah dan harus diubah. Tapi itu kan saya, dan tidak semua mahasiswa bisa mendapat kesempatan dibenturkan keyakinannya melalui tugas proyek yang ada.
Kesimpulan
Dari semua kejenuhan dan tuntutan yang ada, kebanyakan pelajar melarikan diri dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan lewat dunia cyber (game, chat, fb) ataupun shopping di mall, dll. Hal ini membuat bumerang bagi pembelajaran itu sendiri karena prosesnya berlangsung sampai titik jenuh. Hal ini tidak akan dapat maksimal dalam membentuk karakter muda Indonesia yang ingin diciptakan lewat sistem pendidikan yang ada.
Akibatnya jarang (bukan berarti tidak ada lo ya,.) orang indonesia yang bisa kreatif dan menciptakan sesuatu yang bisa di banggakan (baik secara nasional maupun internasional). Padahal kalau berbicara soal intelektual, saya rasa tingkat intelegensi di Indonesia cukup tinggi.Tapi kecerdasan itu tidak benar-benar diolah dengan baik sehingga semakin mematikan dirinya sendiri.
Anak-anak dari kecil sudah dijejali dengan pengetahuan yang suka ataupun tidak suka harus mereka hafal. Padahal saya yakin bahwa setiap anak unik dan memiliki intelegensi yang bermacam-macam seperti: musik, linguistik, kinestetik, logika, spatial, interpersonal dan intrapersonal (Gardner, dalam Feldman). Jadi menurut saya sayang sekali kalau waktu yang ada itu hanya dihabiskan untuk menuntut mereka belajar. Belajar memang perlu, tapi juga perlu untuk memberi kebebasan dan stimulasi bagi anak didik untuk meningkatkan kreatifitas, menemukan intelegensi yang cocok dengannya, lalu memolesnya menjadi aset yang berguna bagi anak.
Daftar Pustaka
Feldman, Robert S. (2007).Understanding Psychology. USA: McGraw-Hill.